Apa Itu Empathy Map? Belajar Melihat Produk dari Sudut Pandang Pengguna
Empathy Map
Setelah membahas user persona, biasanya muncul satu pertanyaan lanjutan
“Saya sudah punya persona, lalu bagaimana cara benar-benar memahami apa yang dia rasakan?”
Di titik inilah saya mulai sering menggunakan empathy map.
Bukan sebagai alat tambahan, tapi sebagai jembatan antara data riset dan empati.
Apa Itu Empathy Map?
Empathy map adalah alat bantu visual yang membantu kita memahami UX secara lebih manusiawi, bukan hanya apa yang mereka lakukan, tapi juga apa yang mereka pikirkan dan rasakan.
Kalau mengacu ke Nielsen Norman Group dan Interaction Design Foundation, empathy map membantu UX designer untuk menyatukan hasil riset, melihat pengalaman pengguna secara holistik, dan membangun empati sebelum masuk ke solusi desain.
Empathy map biasanya dibuat dalam bentuk kanvas sederhana, tapi kekuatannya bukan pada bentuknya, melainkan pada diskusi dan refleksi yang terjadi saat menyusunnya.
Kenapa Empathy Map Dibutuhkan, Padahal Sudah Ada User Persona?
User persona memberi kita gambaran siapa pengguna itu.
Empathy map membantu kita memahami bagaimana rasanya menjadi pengguna tersebut.
Persona menjawab:
“Dia itu siapa dan apa tujuannya?”
Empathy map menjawab:
“Apa yang dia alami saat berinteraksi dengan produk kita?”
Empathy map sering digunakan setelah user research selesai, persona sudah terbentuk, tapi tim masih kesulitan menyepakati sudut pandang pengguna.
Empathy map membantu diskusi menjadi lebih konkret dan berempati.
Empathy Map Bukan Sekadar Mengisi Kuadran
Kesalahan paling umum yang sering saya temui adalah menganggap empathy map sebagai template yang harus diisi penuh.
Padahal, empathy map seharusnya disusun dari cerita pengguna, bukan dari asumsi.
Biasanya empathy map membagi pengalaman pengguna ke beberapa sudut pandang, seperti apa yang mereka: lihat, dengar, pikirkan, rasakan, katakan, dan lakukan.
Namun jangan memulai dari template. Saya memulai dari cerita pengguna, lalu menempatkan insight ke bagian yang paling relevan. Kalau prosesnya dibalik, empathy map akan terasa kering dan mekanis.
Dari Data ke Empati
Empathy map yang baik selalu berangkat dari data riset. Dari kutipan wawancara, hasil observasi, atau temuan usability testing.
Misalnya, ketika pengguna berkata:
“Saya sebenarnya ingin cepat, tapi takut salah klik.”
Kalimat sederhana ini bisa membuka banyak pemahaman:
ada kebutuhan efisiensi
ada rasa tidak aman
dan ada potensi masalah pada affordance desain.
Empathy map membantu saya dan tim melihat makna di balik pernyataan pengguna, bukan hanya mencatatnya.
Dalam workshop atau sesi diskusi, empathy map mendorong semua orang untuk mendengarkan pengguna, mengurangi debat berbasis opini, dan menjaga fokus tetap pada pengalaman manusia.
Di sini, empathy map berfungsi bukan hanya sebagai artefak UX, tapi sebagai alat kolaborasi.
Penutup
UX sering dibicarakan sebagai soal usability dan visual. Tapi di balik semua itu, UX pada dasarnya adalah tentang empati.
Empathy map membantu kita untuk berhenti sejenak, menurunkan ego sebagai designer, dan bertanya:
“Apakah desain ini benar-benar memahami manusia di balik layar?”
Kalau empathy map kamu bisa membantu menjawab pertanyaan itu, berarti alat ini sudah menjalankan perannya dengan baik.
Baca juga:

