rK5aLW1w9MN8HB51NJm6K1fWVxwENUpCxQ9UuDub
Bookmark

Design Thinking dalam UX Research: Memahami Masalah Sebelum Mendesain

Design thinking adalah cara berpikir untuk memecahkan masalah dengan menempatkan manusia sebagai perhatian utamanya.

 


Sebagai designer, ada satu kesalahan yang dulu sering sekali saya lakukan: terlalu cepat ingin membuat desain yang keren seperti di Dribbble, Behance.

Begitu ditanya masalahnya apa, kepala langsung puyeng karena memang tidak ada masalah yang benar-benar saya atasi. Fitur ini, flow itu, layout ini, dan sebagainya. Rasanya ingin langsung buka Figma dan langsung ngedesain.

Akhirnya saya sadar, banyak desain yang saya buat ternyata tidak benar-benar menyelesaikan masalah pengguna. Bukan karena desainnya jelek, tapi karena saya salah memahami cara berpikirnya sejak awal.

Dari situ, saya mulai benar-benar memahami kenapa design thinking penting dalam UX research.


Kenapa Perlu Design Thinking?

Dulu saya sering berada di situasi seperti ini Stakeholder minta fitur baru, Tim punya asumsi sendiri tentang pengguna, Deadline mepet, dan Solusi harus cepat

Di kondisi seperti itu, design thinking membantu saya mikir, terus bertanya:

“Masalah ini sebenarnya dialami siapa?”
“Di konteks apa masalah ini muncul?”
“Apakah solusi yang kita bayangkan benar-benar dibutuhkan?”

Nielsen Norman Group sering menekankan bahwa banyak kegagalan UX terjadi bukan karena kurang kreatif, tapi karena kurang empati dan validasi di awal. Dan saya sangat setuju dengan itu.

Design thinking memaksa kita untuk tidak langsung melompat ke solusi, tapi memahami manusianya dulu.


Jadi, Apa Sebenarnya Design Thinking Itu?

Kalau harus saya jelaskan dengan bahasa paling sederhana:

Design thinking adalah cara berpikir untuk memecahkan masalah dengan menempatkan manusia sebagai perhatian utamanya.

Bukan bimsalabim langsung jadi.

Interaction Design Foundation menjelaskan design thinking sebagai pendekatan human-centered, di mana solusi dibangun dari pemahaman mendalam tentang kebutuhan, emosi, dan masalah pengguna.

Dalam praktik sehari-hari, design thinking seperti:

  • Mendengarkan lebih banyak

  • Mengurangi asumsi

  • Berani mengakui bahwa ide kita bisa salah



Design Thinking Bukan Cuma Soal “Design”

Ini bagian yang sering bikin orang salah paham. Banyak yang mengira design thinking itu identik dengan Sketsa UI, Brainstorming ide, Tampilan visual.

Padahal, dalam UX research, design thinking sering tidak menghasilkan desain sama sekali.

Beneran deh..

Kadang hasilnya justru Insight bahwa masalahnya bukan di UI, Kesimpulan bahwa fitur yang direncanakan tidak dibutuhkan, Perubahan arah solusi secara total.

Menurut saya, design thinking itu bukan soal apa yang kita buat, tapi apa yang kita pahami

Kalau pemahamannya salah, desain secantik apa pun tidak akan banyak membantu (USELESS).



Design Thinking dalam UX

Design thinking sering digambarkan dalam lima tahap. Tapi di lapangan, proses ini tidak harus urut dari proses 1 -5. Kita sering maju-mundur, lompat tahap, bahkan mengulang dari awal.


Empathize

Di tahap ini, jangan langsung ke solusi desain dulu, yang saya lakukan adalah; Mendengar, Mengamati, dan Mencatat.

  • Mendengarkan cerita pengguna (calon pengguna produk)

  • Mengamati bagaimana mereka berinteraksi dengan sistem

  • Mencatat kebingungan, frustrasi, dan kebiasaan kecil yang sering terlewat

Di sinilah UX research benar-benar terasa “manusiawi”. Bukan angka dulu, tapi cerita. Tanpa empati, design thinking hanya akan jadi formalitas.


Define

Tahap ini sering terasa tidak nyaman. Kenapa?

Karena di sini kita harus jujur bahwa

 

“Masalah yang kita pikirkan di awal, ternyata bukan masalah utama."

Saya sering menemukan bahwa masalah sebenarnya jauh lebih sederhana, atau justru lebih dalam, dari yang dibayangkan.

Di tahap define, kita merumuskan masalah dengan kalimat yang jelas, spesifik, dan fokus pada pengguna.

Bukan solusi atau fitur. Dan menurut NN/g, masalah yang dirumuskan dengan baik adalah setengah dari solusi.


Ideate

Baru setelah itu, ide boleh bermunculan. Di tahap ini, saya tidak mencari ide paling keren, tapi:

  • Ide yang paling mungkin diuji

  • Ide yang paling masuk akal untuk pengguna

  • Ide yang realistis bisa di implementasikan

Design thinking mengajarkan bahwa ide tidak harus langsung benar. Yang penting, bisa diuji dan diperbaiki.


Prototype

Prototype sering disalahartikan sebagai desain final. Padahal dalam design thinking, prototype itu alat belajar.

Bisa jelek.
Bisa sederhana.
Boleh salah.

Yang penting, pengguna bisa berinteraksi dan memberi feedback. Karena dari situlah kita benar-benar belajar.


Test


Testing adalah tahap yang paling “menampar ego”
Di sini kita melihat apakah:
  • Pengguna memahami solusi kita

  • Alur yang kita anggap jelas ternyata membingungkan

  • Asumsi kita terbukti atau justru runtuh

Dan itu tidak apa-apa.

Karena tujuan testing bukan membuktikan kita pintar, tapi menyelamatkan pengguna dari pengalaman buruk di kemudian hari.


Penutup

Kalau kamu baru belajar UX, atau bahkan sudah lama berkecimpung di dunia desain, design thinking bukan sesuatu yang harus dihafal, tapi dilatih cara berpikirnya.

Ia mengajarkan kita untuk Lebih empatik dan Lebih kritis terhadap solusi sendiri

Dan menurut saya, itu adalah kualitas paling penting yang bisa dimiliki seorang UX designer.

Terimakasih


Baca juga: Apakah belajar UX Design Segampang Itu? 

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar