rK5aLW1w9MN8HB51NJm6K1fWVxwENUpCxQ9UuDub
Bookmark

User Research dalam UX: Memahami Pengguna dan Mengubah Asumsi Menjadi Fakta

Secara sederhana, user research adalah proses memahami pengguna secara nyata, bukan berdasarkan asumsi.


Dulu, saya sering merasa cukup percaya diri dengan intuisi sendiri.

Saya pikir, “Saya juga pengguna, harusnya saya paham.”

Ternyata tidak sesederhana itu.

Semakin saya sadar bahwa apa yang kita pikirkan tentang pengguna sering kali berbeda dengan kenyataannya. Dan di situlah user research mulai terasa bukan sekadar tahapan, tapi kebutuhan.


Apa Itu User Research dalam UX?

Secara sederhana, user research adalah proses memahami pengguna secara nyata, bukan berdasarkan asumsi.

Menurut Nielsen Norman Group dan Interaction Design Foundation, user research membantu kita menjawab pertanyaan mendasar:

  • Siapa pengguna kita sebenarnya?

  • Masalah apa yang mereka alami?

  • Kenapa mereka bertindak seperti itu?

User research tidak selalu rumit atau mahal. Kadang cukup dengan Obrolan yang tepat, Pertanyaan yang jujur, dan kemauan untuk menerima bahwa dugaan kita bisa salah


Kenapa User Research Itu Perlu?

Ada satu momen yang cukup membekas buat saya.

Di sebuah proyek, tim merasa yakin bahwa masalah utama pengguna adalah tampilan yang “kurang modern”. Semua orang sepakat, desain harus diperbarui.

Setelah melakukan user research, kami justru menemukan bahwa masalah utamanya bukan di tampilan, tapi alur yang membingungkan dan informasi yang tidak jelas.

Kalau waktu itu kami langsung redesign tanpa riset, besar kemungkinan masalahnya tetap ada — hanya tampilannya saja yang berubah.

Di situlah saya benar-benar paham:
tanpa user research, UX design hanyalah asumsi designer.

User research membantu kita:

  • Mengurangi risiko salah solusi

  • Menghemat waktu dan biaya

  • Membuat keputusan desain yang bisa dipertanggungjawabkan

Dan yang paling penting, user research membantu kita mendesain dengan empati, bukan ego.


User Research Tidak Selalu Tentang Data Besar

Dalam praktik UX, riset sering dimulai dari hal-hal kecil.

Nielsen Norman Group bahkan menyebutkan bahwa 5 pengguna saja sudah bisa menemukan sebagian besar masalah usability, kalau risetnya dilakukan dengan benar.


Yang terpenting bukan jumlah datanya, tapi
kedalaman pemahamannya.


Riset Kualitatif: Mendengar Cerita Pengguna

Riset kualitatif adalah jenis riset yang paling sering saya gunakan di awal proses UX. Di sini fokusnya bukan angka, tapi cerita.

Pertanyaan dalam riset kualitatif:

  • Apa yang pengguna rasakan?

  • Kenapa mereka melakukan sesuatu dengan cara tertentu?

  • Di bagian mana mereka merasa frustrasi atau bingung?

Biasanya riset kualitatif dilakukan lewat:

  • Wawancara pengguna

  • Observasi

  • Usability testing

Hasilnya bukan grafik, tapi insight. Interaction Design Foundation menekankan bahwa riset kualitatif sangat penting untuk membangun empati dan memahami konteks pengguna secara mendalam. Tanpa ini, desain mudah kehilangan arah.


Riset Kuantitatif: Melihat Pola dari Angka

Kalau riset kualitatif membantu saya memahami kenapa, riset kuantitatif membantu saya melihat seberapa besarRiset kuantitatif bisa dilakukan dengan beberapa cara:

  • Survei

  • Analisis Data sekunder

  • A/B testing

Dengan riset ini, saya bisa melihat pola Berapa banyak pengguna mengalami masalah yang sama, di bagian mana pengguna paling sering berhenti, perubahan mana yang berdampak signifikan

Riset kuantitatif membantu memvalidasi apakah insight dari riset kualitatif benar-benar terjadi secara luas.


Kualitatif vs Kuantitatif

Kesalahan umum yang sering saya temui adalah membandingkan dua jenis riset ini seolah harus memilih salah satu. Padahal, keduanya saling melengkapi.

Jenis Riset Karakteristik Contoh
Riset Kualitatif
  • Data berupa cerita, opini, dan pengalaman
  • Jumlah responden sedikit
  • Mendalam dan eksploratif
  • Menjawab pertanyaan “kenapa” dan “bagaimana”
  • User interview
  • Observasi pengguna
  • Usability testing
Riset Kuantitatif
  • Data berupa angka dan persentase
  • Jumlah responden banyak
  • Terukur dan objektif
  • Menjawab pertanyaan “berapa banyak” dan “seberapa sering”
  • Survei (Google Form)
  • Kuesioner online
  • Analisis data penggunaan



Penutup

Sebagai UX designer, semakin saya yakin bahwa user research bukan soal teknik, tapi soal sikap.

Sikap untuk mendengar lebih dulu, menunda kesimpulan, mengakui bahwa pengguna lebih tahu masalah mereka daripada kita.

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar