Bagaimana Cara Membuat Empathy Map: Panduan Membuat Empathy Map untuk UX Designer
Bagaimana Cara Membuat Empathy Map?
Sebelum membuat empathy map pastikan kamu menanyakan “Sebenernya, apa yang dirasakan pengguna saat menggunakan produk ini?”
Namun di sinilah banyak UX designer (termasuk saya) di awal karier sering terpeleset. Empathy map dibuat terlalu cepat, terlalu rapi, dan terlalu penuh asumsi.
Padahal, empathy map yang baik tidak dibuat dari imajinasi, tapi dari pemahaman yang pelan dan mencerminkan apa yang dirasakan pengguna.
Mulai dari Riset, Jangan Langsung ke Template
Sekarang, setiap kali membuat empathy map, saya selalu memulai dari satu hal: hasil user research. Bisa berupa (catatan wawancara, kutipan pengguna, hasil observasi, atau temuan usability testing).
Saya tidak langsung berpikir tentang “Say”, “Think”, atau “Feel”. Saya membaca ulang cerita pengguna (hasil wawancara), pahami konteksnya.
Menentukan Fokus Pengguna dan Skenario
Sebelum menyusun empathy map, saya selalu memastikan satu hal empathy map ini dibuat untuk siapa dan dalam konteks apa.
Apakah kita sedang memetakan:
pengalaman pengguna baru?
proses menyelesaikan satu tugas penting?
atau momen ketika pengguna merasa frustrasi?
Empathy map yang terlalu umum akan sulit dipakai. Sebaliknya, empathy map dengan konteks yang jelas justru lebih bermakna dan mudah digunakan dalam diskusi desain.
Menyusun Empathy Map dari Cerita Pengguna
Ini masih berkaitan dengan studi kasus sebelumnya, yaitu user persona seorang event organizer.
Saat mulai menyusun empathy map, buka hasil wawancara atau hasil user research yang kalian lakukan.
Contoh dokumentasi hasil interview: Link
Saya membaca satu per satu temuan riset, pahami apakah Kalimat ini menunjukkan apa yang dia lakukan? Apa yang dia pikirkan? Atau apa yang dia rasakan?.
Insight kemudian ditempatkan ke bagian empathy map yang paling relevan. Tapi saya tidak memaksakan semua kotak harus terisi penuh.
Kalau tidak ada data untuk satu bagian, itu bukan masalah. Lebih baik ada kosong tapi jujur daripada isi yang dipaksakan.
Petakan hasil riset (dalam hal ini hasil wawancara) kedalam template Empathy Map.- HEARS: Apa yang kamu dengar ketika wawancara?
- SEES: Apa yang kamu lihat ketika wawancara/observasi?
- SAYS/DOES: Apa yang pengguna katakan/apa yang pengguna lakukan ketika wawancara/observasi?
- THINK&FEELS: Apa yang pengguna pikirkan dan rasakan?
Fokus pada Emosi dan Motivasi
Empathy map sering disalahgunakan untuk “menebak perasaan pengguna”. Padahal, emosi yang ditulis di empathy map seharusnya berasal dari pernyataan pengguna, terlihat dari perilaku yang diamati, atau muncul dari pola yang konsisten.
Misalnya, pengguna tidak pernah berkata “saya frustrasi”, tapi berkali-kali: berhenti di satu langkah, ragu-ragu, dan bertanya hal yang sama.
Itu sinyal emosi. Empathy map membantu kita menyimpulkan dengan hati-hati, bukan berasumsi.
Gunakan Empathy Map sebagai Alat
Empathy map paling berguna saat digunakan bersama tim. Saya sering membawa empathy map ke sesi diskusi dan bertanya “Kalau ini yang pengguna rasakan, apakah solusi kita sudah menjawabnya?”
Empathy map membantu tim berdiskusi dengan bahasa yang sama, menghindari debat berbasis ego, dan tetap fokus pada pengalaman manusia.
Seperti user persona, empathy map bukan dokumen sekali jadi. Setiap kali ada data baru, empathy map bisa berubah.
Empathy map yang terus diperbarui membantu kita tetap relevan dan tidak terjebak pada asumsi lama.
Penutup
Membuat empathy map bukan tentang mengikuti template, tapi tentang kesediaan untuk benar-benar mendengarkan pengguna.
Kalau empathy map kamu sesuai dengan hasil riset, membantu memahami emosi pengguna, dan memengaruhi keputusan desain,
berarti kamu sudah membuat empathy map dengan cara yang tepat.
Baca Juga: Apa Itu User Persona? Kenapa UX butuh representasi Pengguna?


