Bagaimana Cara Membuat User Persona?
Bagaimana Cara Membuat User Persona?
Kalau kamu pernah membaca artikel saya sebelumnya tentang user persona, mungkin kamu sudah sampai pada satu kesimpulan:
user persona itu penting, tapi sering disalahpahami.
Saya juga pernah berada di posisi itu. Membuat user persona dengan tampilan rapi, foto menarik, dan deskripsi yang kelihatannya meyakinkan—tapi ketika masuk ke proses desain, persona itu jarang benar-benar dipakai.
Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa membuat user persona bukan soal mengisi template, tapi tentang menyusun pemahaman yang utuh tentang pengguna.
1. Kumpulkan Data dan Cerita
Kita coba menggunakan studi kasus Sistem Informasi Event Management, dimana didalam project ini terdapat beberapa pengguna: Admin sistem, Event Manager, Peserta Event.
Setiap user persona yang relevan selalu dimulai dari user research. Tanpa ini, persona hanya akan jadi karakter fiksi.
Proses pertama, saya biasanya melakukan wawancara ke beberapa pengguna (event manager), observasi perilaku, usability testing, dan survei untuk melihat pola umum.
Yang saya cari bukan jawaban “ya atau tidak”, tapi cerita. Cerita tentang
Bagaimana mereka menyelesaikan pekerjaan?
Kenapa mereka menggunakan produk?
Kapan mereka merasa frustrasi?
dan apa yang mereka harapkan tapi tidak mereka dapatkan.
Seperti yang sering ditekankan oleh Nielsen Norman Group dan Interaction Design Foundation, user persona harus merepresentasikan pola perilaku, bukan individu unik. Jadi fokuslah mencari kesamaan, bukan perbedaan kecil.
2. Dari Banyak Pengguna ke Satu Persona
Setelah wawancara ke beberapa responden, rangkum menjadi satu persona dan deskripsikan pengguna secara singkat. Di sinilah proses penting dimulai mengelompokkan pola.
Saya mulai dengan mengelompokkan pengguna berdasarkan tujuan yang sama, masalah yang mirip, cara berpikir yang sejenis.
Disini saya menemukan pola yang sama yaitu bahwa pengguna kita adalah orang yang memiliki ciri-ciri yang sama, yaitu:
Seorang event organizer yang sering menangani event seminar, workshop, dan event komunitas. Ia terbiasa bekerja dengan deadline ketat dan tim yang dinamis. Dalam satu bulan, Dia bisa mengelola 2–4 event sekaligus dengan skala yang berbeda-beda.
Perlahan, pola mulai muncul. Tetapi Apakah pola ini cukup kuat untuk mewakili sekelompok pengguna?
Kalau jawabannya ya, di situlah cikal bakal user persona terbentuk.
3. Memberi Wajah pada Data
Setelah pola terbentuk, barulah saya memberi persona identitas dasar. Bukan untuk dramatisasi, tapi untuk memudahkan empati dan komunikasi tim.
Biasanya saya menyertakan: nama fiktif, gambaran singkat peran atau konteks hidupnya, dan satu kalimat ringkas yang mencerminkan cara berpikirnya.
Bagian ini membantu saya dan tim berhenti berbicara abstrak.
Daripada berkata “user kita”, kami bisa berkata, “Kalau dia yang pakai, apakah flow ini masuk akal?”
Catatan: Identitas hanyalah alat bantu, bukan inti persona.
4. Fokus pada Tujuan dan Masalah, Bukan Detail Tak Relevan
Di sinilah banyak user persona gagal.
User persona yang baik tidak penuh dengan detail yang tidak berdampak ke desain. Umur, status, atau hobi hanya dimasukkan jika memang memengaruhi cara pengguna berinteraksi dengan produk.
Yang selalu saya prioritaskan adalah:
apa tujuan utama pengguna,
apa yang menghambat mereka,
dan bagaimana mereka biasanya mengambil keputusan.
5. Uji Persona dengan Pertanyaan Desain
Satu kebiasaan yang saya lakukan sebelum menganggap persona “siap pakai” adalah menguji persona dengan skenario nyata.
Pertanyaan berikut ini akan membantu kamu dalam menguji persona yang kamu buat.
Apakah persona ini membantu menentukan prioritas fitur?
Apakah persona ini bisa digunakan saat berdiskusi dengan stakeholder?
Apakah persona ini membantu menjawab “kenapa” di balik keputusan desain?
Kalau jawabannya masih ragu, persona tersebut perlu dipertajam lagi.
User Persona Bukan Dokumen Sekali Jadi
User persona yang baik selalu terbuka untuk berubah.
Seiring produk berkembang dan data baru muncul, persona perlu diperbarui. Ini sejalan dengan prinsip yang sering dibahas oleh Interaction Design Foundation: persona adalah alat berpikir yang hidup, bukan artefak statis.
Penutup
Kamu tidak perlu membuat user persona yang sempurna. Yang kamu butuhkan adalah persona yang sesuai dengan data, relevan dengan konteks produk, dan benar-benar membantu proses pengambilan keputusan.
Di artikel selanjutnya, saya akan membahas bagaimana user persona ini digunakan dalam user journey map dan pengambilan keputusan, karena persona yang baik seharusnya tidak berhenti di dokumen.
Baca Juga:



