rK5aLW1w9MN8HB51NJm6K1fWVxwENUpCxQ9UuDub
Bookmark

How Might We dalam UX: Dari Problem Statement Menjadi Ide Desain

HMW—adalah cara merumuskan masalah ke dalam bentuk pertanyaan terbuka yang memicu eksplorasi solusi, bukan langsung mengarah ke satu jawaban.

 

How Might We

Setelah kita membahas problem statement, Kita sudah tahu masalahnya. Lalu… sekarang apa?

Beberapa desainer pemula mungkin akan bingung. Entah terlalu cepat menentukan solusi, atau justru bingung harus mulai dari mana. How Might We sering menjadi jembatan yang paling membantu di fase ini.


Apa Itu How Might We?

How Might We atau sering disingkat HMW—adalah cara merumuskan masalah ke dalam bentuk pertanyaan terbuka yang memicu eksplorasi solusi, bukan langsung mengarah ke satu jawaban.

Pendekatan ini banyak digunakan dalam design thinking dan sering dibahas oleh Nielsen Norman Group dan Interaction Design Foundation sebagai alat untuk menerjemahkan problem statement, membuka ruang ide, dan menjaga fokus tetap pada kebutuhan pengguna.

Yang menarik, HMW terdengar lebih sederhana, tapi justru karena kesederhanaannya HMW mudah digunakan dan dipelajari.

Kenapa How Might We Penting dalam UX?

Tanpa HMW, kita sering terjebak dalam dua hal yaitu terlalu cepat menentukan solusi, atau terlalu lama terjebak di definisi masalah.

How Might We membantu kita berpikir solusi tanpa kehilangan empati. Kalimat “how might we” secara tidak langsung mengingatkan kita bahwa kita belum tahu jawabannya, ada banyak kemungkinan solusi, dan solusi terbaik belum tentu yang pertama terpikirkan.

Kesalahan dalam Membuat HMW

Kesalahan yang sering saya temui adalah membuat HMW yang sebenarnya sudah berisi solusi. Misalnya:

“How might we menambahkan fitur reminder agar pengguna tidak lupa?”

Kalimat ini terdengar seperti HMW, tapi sebenarnya sudah menentukan jawabannyaHMW yang baik seharusnya tetap terbuka, netral, dan fokus pada masalah pengguna. Dengan begitu, tim masih punya ruang untuk mengeksplorasi berbagai pendekatan.

Akan lebih baik jika HMW menjadi seperi dibawah ini:

“Bagaimana kita bisa membantu pengguna agar tidak lupa?”

Di titik ini, fokus bergeser menjadi “apa yang mungkin dilakukan”.

Satu problem statement bisa melahirkan beberapa HMW, dan itu wajar. Bahkan, dalam beberapa proyek, saya sengaja membuat beberapa versi HMW untuk melihat masalah dari sudut pandang berbeda, membuka peluang solusi yang lebih luas, dan menguji fokus tim.

HMW bukan soal menemukan kalimat paling sempurna, tapi soal menemukan pertanyaan yang paling membantu.


Penutup

How Might We adalah pengingat kecil bahwa sebagai designer, kita tidak selalu tahu jawabannya sejak awal. Dengan HMW, kita mengakui ketidaktahuan itu—dan justru dari sanalah ide-ide terbaik sering muncul.

Kalau kamu ingin proses UX kamu lebih terarah tapi tetap kreatif, mulailah membiasakan diri merumuskan How Might We dengan baik. Karena desain yang berdampak sering lahir dari pertanyaan yang tepat, bukan dari jawaban yang terburu-buru.

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar